Posts

Showing posts with the label Ekonomi Indonesia

Anomali Perekonomian Indonesia 2017: Ada Apa?

Image
Sinopsis yang dilempar oleh watyutink.com sangat menarik dan sangat cerdas, mencermin tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan terkini dalam bidang ekonomi dan sosial, yaitu anomali perekonomian Indonesia, di mana data pertumbuhan ekonomi makro yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) terlihat cukup baik dengan tingkat pertumbuhan 5,01 persen di semester I 2017, tetapi realitanya banyak toko ritel yang tutup, terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), yang kemudian diidentikkan dengan daya beli masyarakat melemah. Mengapa ini bisa terjadi? Ditinjau dari data ekonomi lainnya yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat aktivitas ekonomi (leading indicator) , sepertinya ekonomi kita di semester I 2017 ini memang kurang menggembirakan. Pertama, pertumbuhan konsumsi listrik nasional, di mana selama semester I 2017 hanya naik 2,4 persen saja (yoy, artinya dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dalam hal ini semester I 2016). Konsumsi listrik biasanya mem...

Ekonomi Indonesia Q3 2015 Belum Meroket, Diperkirakan Q4 2015 Akan Melemah

Image
Ekonomi Indonesia pada kwartal III (Q3) 2015 hanya bertumbuh 4,73 persen dibandingkan dengan Q3 2014, sangat jauh dari target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah di APBN 2015 yang sebesar 5,7 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode sembilan bulan pertama 2015 hanya mencapai 4,71 persen. Pertumbuhan ekonomi Q3 2015 ini (= 4,73 persen) jauh dari perkiraan pemerintah, yang diharapkan akan mulai meroket pada semester II 2015. Dibandingkan dengan kwartal-kwartal sebelumnya kinerja ekonomi pada Q3 2015 ini datar-datar saja: Pertumbuhan ekonomi pada Q1 2015 mencapai 4,72 persen dan pada Q2 2015 mencapai 4,67 persen. Padahal, pengeluaran belanja pemerintah pada Q3 2015 sudah naik cukup signifikan dibandingkan dengan periode Q3 2014, yaitu dari Rp 259,13 triliun menjadi Rp 292,90 triliun, atau naik 13,03%. Sedangkan pada Q1 2015 belanja pemerintah naik 8.50% dibandingkan dengan Q1 2014, yaitu dari Rp 165,90 triliun (Q1 2014) menjadi Rp 180 trili...

Potensi Besar, Ekonomi Indonesia Masuk Resesi Pada Triwulan II-2015

Memasuki tahun 2015, ekonomi Indonesia kini terancam resesi. Ekonomi dikatakan resesi apabila Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dua triwulan berturut-turut mengalami kontraksi, atau lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Pada triwulan I-2015 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,18 persen dibandingkan triwulan IV-2014. Berdasarkan harga konstan 2010, PDB Indonesia pada triwulan I-2015 hanya mencapai Rp 2.157,5 triliun, turun dari Rp 2.161,5 triliun pada triwulan IV-2014. Kontraksi ini terjadi untuk pertama kalinya sejak krisis ekonomi 1998/1999 berakhir. Apabila pada triwulan II-2015 ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya maka ekonomi Indonesia secara resmi masuk resesi. Indikasi ekonomi Indonesia masih akan melemah pada triwulan II-2015 terlihat dari beberapa indikator ekonomi domestik maupun internasional. Permintaan dunia pada produk unggulan Indonesia dipercaya masih melemah. Sebagai contoh, Tiongkok sebagai mitra dagang utam...

Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2014 Meleset Tajam: Perkiraan atau Harapan?

Setiap tahun pemerintah akan membuat perkiraan pertumbuhan ekonomi beserta asumsinya yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Untuk tahun 2014, pada awalnya pemerintah (c.q. Kementerian Keuangan) memperkirakan ekonomi kita akan bertumbuh sebesar 6,0 persen. Bank Indonesia juga sangat optimis dan memperkirakan ekonomi kita akan bertumbuh antara 5,8 persen – 6,2 persen. Perkiraan pertumbuhan ekonomi oleh kedua institusi lokal ini jauh di atas perkiraan Bank Dunia dan IMF (International Monetary Fund) yang masing-masing memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen dan 5,4 persen. Dengan demikian terdapat perbedaan perkiraan yang cukup signifikan antara dua institusi lokal (Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia) dan dua instiutusi dunia (Bank Dunia dan IMF) tersebut. Perkiraan pertumbuhan ekonomi 2014 yang diprediksi oleh kedua local institutions ini terasa sangat kontradiktif karena perkiraan tersebut...

Rupiah Masih Melemah, Meskipun Neraca Perdagangan Surplus

Senin, 2 Desember 2013, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan bulan Oktober 2013 mengalami surplus, setelah sempat defisit pada bulan sebelumnya. Berita ini cukup mengejutkan bagi banyak pihak. Meskipun surplus tersebut terbilang kecil, hanya 42 juta dolar AS, tetapi hasil ini sungguh melegakan di tengah tekanan defisit yang bertubi-tubi. Kurs rupiah pun langsung bergerak menguat menyusul berita menggembirakan ini. Pemerintah langsung mengatakan, kebijakan ekonomi telah bekerja dengan baik: kenaikan BI rate, pelarangan impor, telah berhasil membuat defisit menjadi surplus. Tetapi, pasar memang sungguh kejam. Kita hanya diberi dua hari saja untuk bergembira. Setelah itu, kurs rupiah kembali mengalami tekanan. Kemarin (4 Desember 2013), kurs tengah rupiah Bank Indonesia tercatat Rp 11.960 per dolar AS, dan hari ini melemah lagi menjadi Rp 12.018 per dolar AS. Apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa kurs rupiah melemah lagi? Bukankah neraca perdagangan sud...

How High Will You Go: BI Rate

Pada tanggal 12 November 2013, Bank Indonesia menaikkan lagi BI rate sebesar 0,25 persen, menjadi 7,50 persen. Kurs tengah harian Bank Indonesia pada tanggal 11 November 2013 tercatat Rp 11.486 per dolar AS. Setelah BI rate naik, kurs rupiah masih melemah terus. Pada hari ini, 28 November 2013, kurs tengah harian Bank Indonesia tercatat Rp 11.930 per dolar AS. Kurs rupiah di Bloomberg bahkan sudah tembus Rp 12.000 per dolar AS, dan ditutup Rp 12.018 pada 28 November 2013. Jadi, penaikan BI rate tidak dapat menahan kemerosotan kurs rupiah terhadap dolar AS. Fenomena ini juga terlihat pada penaikan-penaikan BI rate sebelumnya, yaitu dari 5,75 persen menjadi 7,25 persen, di mana kurs rupiah tetap turun ketika BI rate dinaikkan. Lihat tulisan berikut: http://bit.ly/1b8uAzH. Bank Indonesia mungkin berkilah, penaikan BI rate bukan hanya ditujukan untuk menahan kemerosotan kurs rupiah. Penaikan BI rate juga diharapkan dapat menahan laju inflasi dan, khususnya, defisit transaksi berj...

Peningkatan Neraca Perdagangan Agustus 2013 Destruktif

Image
Neraca perdagangan Agustus 2013 mengalami surplus 132 juta dolar AS. Meskipun surplus tersebut sangat kecil, tetapi cukup melegakan karena neraca perdagangan pada Juli 2013 mengalami defisit 2,3 miliar dolar AS, yang mana merupakan defisit bulanan terbesar selama ini. Namun demikian, surplus perdagangan Agustus 2013 tersebut harus diberi catatan khusus karena mengkhawatirkan, dan bahkan berindikasi akan terjadi permasalahan baru dalam perekonomian kita ke depan. Pertama, surplus perdagangan pada Agustus 2013 tersebut terjadi bukan karena peningkatan kinerja ekspor, melainkan lebih disebabkan karena penurunan impor yang sangat besar, yaitu 25,20 persen, atau turun dari 17,42 miliar dolar AS pada Juli 2013 menjadi 13,03 miliar dolar AS pada Agustus 2013, atau turun 4,39 miliar dolar AS. Sedangkan, kinerja ekspor pada Agustus 2013 masih mengalami penurunan yang cukup besar, yaitu 12,77 persen dibanding ekspor bulan sebelumnya, dari 15,09 miliar dolar AS menjadi 13,16 miliar...

Benarkah Krisis Masih Jauh?

Kemunduran ekonomi Indonesia setahun belakangan ini memicu perdebatan apakah Indonesia akan memasuki tahapan krisis ekonomi. Sejak May 2013 hingga kini nilai rupiah sudah turun lebih dari 15 persen. Kinerja rupiah selama tahun ini adalah yang terburuk di Asia, lebih buruk dari rupee India. Namun demikian, banyak pejabat kita berpendapat bahwa ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kuat dan jauh dari kondisi krisis. Apalagi kalau dibandingkan dengan tahun 1997/1998, kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dan tidak terbandingkan. Mereka berargumen, jumlah cadangan devisa kita saat ini adalah sebesar 93 miliar dolar AS, jauh lebih besar dari cadangan devisa kita pada akhir tahun 1997 yang hanya sekitar 21 miliar dolar AS saja. Jadi, kondisi kita aman-aman saja, ujar mereka. Pernyataan di atas mencerminkan pandangan yang kerdil dan dapat menyesatkan. Pertama, cadangan devisa sebesar 93 miliar dolar AS per akhir Augustus 2013 secara relatif belum tentu jauh lebih b...

Siapa Bilang Ekonomi Indonesia Tidak Tergantung Kebijakan Asing?

Sekali Lagi, Penaikan BI Rate Tidak Efektif Reaksi pasar di dunia, termasuk Indonesia, terhadap kebijakan moneter AS yang menunda tapering (pelambatan QE) sangat luar biasa. Indeks saham IHSG melonjak 4,65 persen (Kamis, 19 September 2013), dan rupiah menguat hampir 5 persen. Sepanjang Kamis, rupiah sempat diperdagangkan pada rentang Rp 10.694 - Rp 11.325 per dolar AS. Respons seperti di atas tidak terlihat ketika Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga acuannya yang disebut juga dengan BI rate hingga 4 kali dalam periode 4 bulan dengan total kenaikan sebesar 1,5 persen menjadi 7,25 persen. Dari respons terhadap kebijakan-kebijakan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan secara jelas bahwa fluktuasi rupiah dan indeks saham IHSG dewasa ini tergantung dari kebijakan Bank Sentral AS, bukan dari kebijakan Bank Indonesia terutama yang terkait dengan penaikan BI rate. Oleh karena itu, juga dapat disimpulkan, menaikkan BI rate menjadi 7,25 persen tidak efektif untuk meredam penur...

Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Defisit Neraca Perdagangan masih berlanjut! Bagaimana Prospek Ekonomi Selanjutnya?

Image
Pertumbuhan PDB triwulan II (Apr – Jun) 2013 hanya 5,81 persen ( year-on-year ) *) , melambat dibandingkan dengan pertumbuhan PDB triwulan I (Jan-Mar) 2013 yang sebesar 6,02 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan PDB semester I (Jan-Jun) 2013 menjadi 5,92 persen ( year-on-year ). *) Year-on-year (y-o-y) artinya dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tingkat pertumbuhan sebesar 5,92 persen ini cukup “mengejutkan”. Pasalnya, kondisi ekspor kita sepanjang 2013 ini masih sangat tertekan sehingga mengakibatkan defisit neraca perdagangan meningkat – penurunan ekspor jauh lebih besar dari penurunan impor. Ekspor turun dari 96,96 miliar dolar AS (semester I 2012) menjadi 91,05 miliar dolar AS (semester I 2013), atau turun 5,91 miliar dolar AS, atau 6,09 persen (lihat tabel 1). Sedangkan impor turun lebih rendah dari ekspor, yaitu dari 96,45 miliar dolar AS (semester I 2012) menjadi 94,36 miliar dolar AS (semester I 2013), atau turun 2,09 miliar dolar AS, atau 2...

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Januari – April 2013 bisa di bawah 5 persen

Data statistik perdagangan Indonesia selama Januari – April 2013 menunjukkan penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012. Export turun 7,07%, dari 64,69 miliar dolar AS pada Januari-April 2012 menjadi 60,11 miliar dolar AS pada Januari-April 2013. Import turun 1,15%, dari 62,68 miliar dolar AS pada Januari-April 2012 menjadi 61,96 miliar dolar AS pada Januari-April 2013. Neraca perdagangan defisit meningkat, dari surplus 2,00 miliar dolar AS untuk 4 bulan pertama 2012 menjadi defisit 1,85 miliar dolar AS pada periode yang sama 2013. Pada kuartal pertama (Januari-Maret) 2013, ekonomi Indonesia bertumbuh 6,02%. Melihat perkembangan neraca perdagangan Indonesia selama Januari – April 2013 yang mengalami penurunan cukup drastis, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan melebihi 5,0% untuk periode tersebut di atas, bahkan bisa di bawah 4,5%.

Sisi Lain Ekonomi: Konsumsi Domestik yang Besar Menahan Pertumbuhan Ekonomi

Image
Banyak pihak mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak perlu dikhawatirkan karena didukung oleh Konsumsi Domestik (Rumah Tangga) yang kuat, dengan kontribusi sekitar 55% dari PDB. Pendapat seperti ini bisa menyesatkan gambaran perekonomian yang baik. Rasio Konsumsi Rumah Tangga yang besar dapat disebabkan karena rasio-rasio lainnya relatif rendah: rasio Investasi terhadap PDB rendah, rasio Ekspor terhadap PDB rendah. Mari kita belajar dari perekonomian China yang bertumbuh luar biasa cepatnya. Gambar di bawah ini memuat perkembangan ekonomi China sejak economic reforms  di mulai pada tahun 1978 hingga 2011. Seperti kita ketahui, pertumbuhan ekonomi China sangat luar biasa cepatnya selama kurun waktu tersebut, sekitar rata-rata 10% per tahun. Pada tahun-tahun awal reformasi, rasio konsumsi rumah tangga terhadap PDB juga cukup besar, sekitar 50% (seperti kondisi ekonomi kita saat ini). Sedangkan rasio Investasi dan Ekspor terhadap PDB jauh di bawah Konsumsi Rumah Tangga....

Membedah Anatomi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2012

Image
Sungguh sulit dipercaya, perekonomian Indonesia tahun 2012 bertumbuh 6,23%. Pasalnya, harga komoditas yang menjadi andalan Ekspor Indonesia dengan kontribusi hampir 40% dari Total Ekspor, seperti Karet dan turunannya, Batubara dan turunannya, serta Minyak Kelapa Sawit dan turunannya, berguguran. Banyak pihak underestimate peran Ekspor dalam perekonomian Indonesia. Dikatakan, perekonomian Indonesia didukung oleh Konsumsi Rumah Tangga yang tinggi, sekitar 55% dari PDB. Sedangkan Ekspor hanya sekitar 10% saja. Yang dimaksud sebenarnya adalah Ekspor Bersih (Ekspor setelah dikurangi Impor). Tetapi, nilai Ekspor itu sendiri sebenarnya sangat besar, yaitu 47,58% dari PDB untuk tahun 2012, hampir setara dengan Konsumsi Rumah Tangga. (Lihat Tabel 1.)  Oleh karena itu, penurunan drastis harga komoditas tersebut di atas pada tahun 2012 seharusnya berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun tersebut. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tahun 2102 sebesar 6,23% s...