Posts

Showing posts with the label Kebijakan moneter

Turunkan Suku Bunga Kredit yang 'Mencekik'

Image
Tahun ini beban keuangan masyarakat dan perusahaan sangat berat. Mereka harus bayar bunga dan cicilan kredit tunggakan tahun lalu, ditambah bunga dan cicilan kredit tahun ini. Artinya, daya beli masyarakat 2021 semakin runtuh. Perusahaan harus menunda investasi karena harus bayar bunga dan cicilan. Hal ini diperparah dengan suku bunga pinjaman yang tidak kunjung turun. Ikuti di Political Economy and Policy Studies (PEPS):  https://peps.co.id/307/

Visi Bank Indonesia Tentang Stabilisasi Nilai Tukar Dapat Menyesatkan

Image
Kalau kita buka website Bank Indonesia ( www.bi.go.id ), maka langsung terbaca Visi Bank Indonesia yang berbunyi: Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil. Visi menggambarkan tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah institusi. Oleh karena itu, visi sangat penting karena menentukan masa depan institusi tersebut. Visi juga akan dijadikan rujukan dalam merumuskan langkah-langkah strategis serta pengambilan keputusan strategis. Oleh karena itu, visi harus dirumuskan secara masak-masak, tepat dan benar. Kalau salah merumuskan visi maka semua tindakan, kebijakan dan keputusan strategis akan salah arah, menyesatkan, dan dapat membuat ekonomi terjerumus ke jurang kehancuran. Bagaimana dengan Visi BI di atas? Dari visi yang tertulis, visi (atau juga bisa dikatakan sasaran utama) Bank Indonesia dalam menjalankan tugasnya ada dua, yaitu (1...

Appendix: Theory of Money and Exchange Rate

Tulisan ini dibuat sebagai appendix tulisan yang berjudul: Visi Bank Indonesia Tentang Stabilisasi Nilai Tukar Dapat Menyesatkan: http://bit.ly/1hi2pOs.  Sebelum ada uang (money) , semua transaksi dilakukan secara barter. Sistem barter ini tentu saja sangat tidak efisien. Uang kemudian dikenalkan sebagai alat tukar transaksi (medium of exchange) pengganti barter. Pada awalnya, uang yang digunakan adalah dalam bentuk logam mulia, perak atau emas. Dalam tulisan ini, logam mulia diasumsikan emas. Sistem moneter berdasarkan uang logam mulia emas disebut gold specie standard . Gold specie standard kemudian berevolusi menjadi gold standard currency, di mana nilai mata uang ditetapkan dalam jumlah unit emas. Misalnya, pada tahun 1934 Amerika Serikat menetapkan 1 ounce emas (= 28,35 gram) = 35 dolar AS. Atau, 1 dolar AS sama dengan 0,81 gram emas. Karena nilai mata uang menggunakan rasio tetap terhadap emas, maka jumlah uang beredar sesuai dengan jumlah cadangan emas. Kalau cada...

Ilusi Seputar Penaikan BI Rate

Image
Neraca perdagangan Indonesia sejak tahun 2012 mengalami defisit berkepanjangan, dan masih berlanjut hingga 2013. Defisit tersebut merupakan yang terburuk sejak tahun 1961. Di samping itu, neraca transaksi berjalan juga mengalami defisit yang bahkan jauh lebih serius dari defisit neraca perdagangan. Defisit transaksi berjalan ini sudah berlangsung selama 8 kwartal berturut-turut, yaitu sejak kwartal IV 2011 hingga kwartal III 2013. Secara “kebetulan” kurs rupiah terhadap dolar AS juga mengalami tekanan hebat, dan terdepresiasi hingga 24,26 persen selama satu tahun terakhir ini, terhitung 7 Desember 2012 hingga 6 Desember 2013. Puncak akselerasi depresiasi terjadi pada pertengahan tahun kedua sebesar 21,96 % (5 Juni 2013 – 6 Desember 2013). Untuk pertengahan tahun pertama (7 desember 2012 – 5 Juni 2013) rupiah hanya terdepresiasi 1,89 persen. Lihat tabel di bawah ini. Depresiasi rupiah yang luar biasa ini memicu Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya, yang juga dikenal deng...

Stop Penaikan BI Rate!

Image
Suku bunga acuan Bank Indonesia yang juga disebut BI rate naik sebanyak empat kali dengan total kenaikan sebesar 150 basis points (atau 1,5%), dari 5,75% menjai 7,25%, hanya dalam kurun waktu 3 bulan saja. Menurut para pejabat Bank Indonesia, penaikan BI rate dilakukan untuk memerangi inflasi serta meredam pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS. Bank Indonesia menaikkan BI rate pada tanggal: 13 Juni 2013 sebesar 0,25%, menjadi 6% (dari 5,75%); 11 Juli 2013 sebesar 0,5% , menjadi 6,5%; 29 Agustus 2013 sebesar 0,5%, menjadi 7%; dan 12 September 2013 sebesar 0,25% menjadi 7,25%. Meskipun BI rate sudah naik sebanyak empat kali menjadi 7,25%, pelemahan kurs rupiah masih tidak tertahankan, yang mana mencerminkan kebijakan ini tidak efektif untuk menahan anjloknya kurs rupiah. Perkembangan kurs rupiah seputar tanggal kenaikan BI rate juga mendukung pendapat di atas. Kurs rupiah pada tanggal 13 Juni 2013 tercatat sebesar Rp 9.887 per dolar AS, dan tidak berubah secara berarti m...

Siapa Bilang Ekonomi Indonesia Tidak Tergantung Kebijakan Asing?

Sekali Lagi, Penaikan BI Rate Tidak Efektif Reaksi pasar di dunia, termasuk Indonesia, terhadap kebijakan moneter AS yang menunda tapering (pelambatan QE) sangat luar biasa. Indeks saham IHSG melonjak 4,65 persen (Kamis, 19 September 2013), dan rupiah menguat hampir 5 persen. Sepanjang Kamis, rupiah sempat diperdagangkan pada rentang Rp 10.694 - Rp 11.325 per dolar AS. Respons seperti di atas tidak terlihat ketika Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga acuannya yang disebut juga dengan BI rate hingga 4 kali dalam periode 4 bulan dengan total kenaikan sebesar 1,5 persen menjadi 7,25 persen. Dari respons terhadap kebijakan-kebijakan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan secara jelas bahwa fluktuasi rupiah dan indeks saham IHSG dewasa ini tergantung dari kebijakan Bank Sentral AS, bukan dari kebijakan Bank Indonesia terutama yang terkait dengan penaikan BI rate. Oleh karena itu, juga dapat disimpulkan, menaikkan BI rate menjadi 7,25 persen tidak efektif untuk meredam penur...

No Tapering, We are Saved at the Moment

The FED secara mengejutkan memutuskan untuk belum mengurangi pembelian obligasi - no tapering . Oleh karena itu, untuk sementara ini kita tidak perlu khawatir kurs rupiah turun. Setidak-tidaknya, kita tidak perlu dikhawatirkan sampai meeting FOMC tanggal 17-18 Desember mendatang. (Meeting FOMC selanjutnya adalah 29-30 Oktober, tetapi tidak ada agenda press conference.) Data ekonomi AS saat ini masih belum menunjukkan kemajuan seperti yang diharapkan. The FED bahkan merevisi tingkat pertumbuhan AS tahun ini dari sebelumnya antara 2,3%-2,6% menjadi 2,0%-2,3%. Oleh karena itu, tapering belum dapat dilakukan sampai The FED yakin pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan konsistensi. Hari ini, diperkirakan index bursa di emerging market akan terbang dan rupiah akan menguat. --- 000 ---

Panik, Bank Indonesia Menggelar Rapat Dewan Gubernur Bulanan Tambahan

Setiap satu bulan sekali Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) menggelar rapat untuk membahas kondisi ekonomi dan moneter terkini, dan mengambil kebijakan moneter apabila diperlukan. Untuk bulan Agustus 2013 rapat bulanan tersebut sudah terlaksana pada tanggal 15 Agustus yang lalu, sebelum nilai rupiah  terperosok. Hanya berselang seminggu setelah itu, nilai rupiah turun sekitar 10 persen, dan indeks saham anjlok. Untuk menjaga nilai rupiah dan indeks saham agar tidak terpuruk lebih jauh maka pada tanggal 23 Agustus 2013 BI mengeluarkan lima butir kebijakan moneter yang diharapkan dapat membantu stabilitas makroekonomi. Akan tetapi, hasilnya jauh dari memuaskan, nilai rupiah dan indeks saham tetap merosot. Kurs rupiah sempat  melemah hingga Rp 11.400-an per dolar AS (bloomberg). Kondisi ini membuat BI mulai panik, dan segera menggelar rapat bulanan tambahan yang akan dilaksanakan besok, Kamis, 29 Agustus 2013. Dalam rapat ini diperkirakan BI akan menaikkan tingkat suku bunga ...